" UPDATE >>>Arema Indonesia mengeluhkan kondisi rumput lapangan stadion Siliwangi yang dalam keadaan rusak berat setelah digunakan selama tiga hari untuk event KICKFEST 2010. Kondisi rumput lapangan dalam keadaan rusak berat, tanah bercampur lumpur menutupi rumput stadion. Arema bertandang ke Bandung untuk melakoni leg kedua perempat final Piala Indonesia 2010. Di leg pertama yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Malang, Arema unggul telak 3-0.

30 Juni 2010

Pesta Arema di Afsel

Monday, 28 June 2010 (www.seputarindonesia.com)

JOHANNESBURG (SI) – Selebrasi Arema Indonesia bukan hanya di Malanga. Pesta Singo Edan merebut trofi Djarum Indonesia Super League (DISL) berlanjut di Soccer City, Johannesburg, Minggu (27/6).

Baca Juga : Ada Aremania di Loftus Versfeld

Harie Pandiono yang membawa bendera kampiun DISL berkibar ke Soccer City. Pria yang bekerja sebagai Senior Project Admin/Cost Control Manager Freeport McMoRan Copper & Gold Inc di Kongo (DRC) itu rela membawa spanduk raksasa bertuliskan ’’Arema Indonesia’’ seberat 12 kg dengan ukuran 6 x 8 meter ke Afrika Selatan (Afsel). Spanduk supergede ini sukses dipasang di tribune penonton. Sayang, tak lama berselang datang polisi dan meminta Harie menurunkan spanduk. Alasannya: mengganggu orang lain karena menjuntai melewati tinggi tribune. Namun, polisi membiarkan Harie melambai-lambaikan bendera Arema sepanjang laga Los Albicelestes, julukan Argentina, kontra El Tri––julukan Meksiko.

Rasa bangga terpancar jelas di wajah Harie, yang merupakan salah satu penggemar fanatik klub besar asal Kota Malang itu. Matanya berbinar ketika menyaksikan bendera Arema bisa bersanding dengan bendera Argentina dan Meksiko. ”Meski timnas Indonesia gagal di kualifikasi, yang penting bendera Arema telah ditancapkan,” tandasnya. Penasaran dengan bendera yang berbeda itu, banyak suporter bahkan ofisial FIFA bertanya kepada Harie. Setelah dijelaskan bahwa Arema adalah juara DISL, Harie malah kebanjiran permintaan foto bareng. ’’What is your team?” tanya seorang suporter Argentina kepada Harie. ”My team is in my heart, even they not here,” ujar pria berusia 46 tahun itu. Lalu, seorang wartawan Jepang menghampiri.

’’That’s the flag of the Indonesia Crazy Lion (Singo Edan),” ucapnya. Sehari sebelumnya Harie juga sukses menyebarkan ’’Salam Satu Jiwa’’ di Stadion Royal Bafokeng. Ketika para pemain Ghana dan Amerika Serikat saling bunuh untuk tiket ke perempat final, Harie tak lelah mengibarkan bendera Arema di stadion di Kota Rustenburg itu. Sebelum diterbangkan ke Afsel, bendera Arema terlebih dahulu mengangkasa di Sudan, Ethiopia, dan Ghana. ’’Saya ingin menunjukkan bahwa seorang suporter bisa mewakili Indonesia di Piala Dunia dengan membawa spanduk dan bendera klub juara DISL,” ujar Harie, yang menghabiskan USD4.000 sebagai cost misinya ke Afsel dari DRC.

Pemasangan spanduk raksasa Arema di tribune Soccer City dibantu seorang warga Indonesia, Samuel Tirayoh, yang sengaja datang ke Afsel untuk menyaksikan laga Piala Dunia 2010. Pesan yang ingin disampaikan Harie dkk adalah banyak masyarakat Indonesia yang peduli dengan kemajuan sepak bola nasional.Warga Indonesia rindu terhadap prestasi tim Merah Putih. Dengan dukungan lebih dari 200 juta penduduk, apakah terlalu muluk bila menyimpan harapan bisa melihat bendera Indonesia berkibar di Piala Dunia suatu saat nanti? Only time will tell. (hanna farhana)

Baca Juga:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar